PENULISAN 2


CARA MENANGANI MENTAL ILLNESS


Gangguan mental ada banyak jenis dan penyebabnya terjadi berbeda-beda pada setiap orang. Penanganannya pun beragam. Menyesuaikan gejalanya, mulai dari gejala yang ringan hingga berat. Bagi orang yang mengidap mental illness jenis skizofrenia, masih ada banyak kasus yang penderitanya mampu bekerja.  Mental illness atau gangguan mental ada banyak jenis dan penyebabnya terjadi berbeda-beda pada setiap orang. Penanganannya pun beragam. Menyesuaikan gejalanya, mulai dari gejala yang ringan hingga berat.

"Sebagai contoh, depresi bisa berupa kesedihan berkepanjangan yang kadang mengganggu aktivitas sehari-hari, hingga adanya percobaan bunuh diri yang berulang," tutur dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ kepada Medcom.id. Sedangkan untuk mental illness jenis skizofrenia, ada banyak kasus yang penderitanya masih mampu bekerja. Sekalipun, pengidapnya telah mengalami halusinasi pendengaran dan selalu merasa dibicarakan oleh kawan-kawan Di sekitar lingkungan hidupnya.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah dan Puri Indah itu memaparkan, penderita skizofrenia lainnya bisa benar-benar hidup dalam delusinya. Bahkan, mengisolasi diri secara total tanpa peduli lagi dengan self-hygiene. "Penderita kecemasan umumnya masih mampu bekerja dan tetap berperan sesuai profesinya di tengah-tengah masyarakat. Namun, mereka senantiasa diteror oleh rasa cemas dan panik, yang menjadikan hari-hari berlalu dengan berat dan produktivitas jauh dari maksimal," imbuhnya.

Penanganannya pun diatur berdasarkan jenis mental illness, tingkat keparahannya, juga kondisi fisik pengidapnya. Beragam cara, mulai dari penanganan standar hingga penanganan ekstra.. "Pelaksanaan juga perlu mempertimbangkan latar belakang keluarga, budaya, hingga kemampuan finansial. Karena, kesembuhan akan sulit dicapai tanpa keterlibatan keluarga sebagai faktor pendukung utama," papar dr. Leonardi.
Anda bisa melakukan penanganan dengan terapi yang memiliki bukti ilmiah dan berdasarkan pedoman untuk terapi penderita gangguan mental. Setidaknya ada tiga macam terapi. Berikut di antaranya: 

1. Medikasi
Medikasi disebut juga sebagai farmakoterapi atau terapi biologis yang bekerja dengan cara mengembalikan keseimbangan neurotransmitter yang terganggu. Sehingga, saraf-saraf otak dapat kembali menjalankan fungsinya untuk mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku. Contohnya, anti-psikotik, anti-depresi, anti-anxietas, dan stabilisator mood. 

2. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan penggunaan berbagai metode psikologi. Khususnya yang berbasis interaksi personal untuk membantu seseorang mengubah cara berpikir, perilaku, mengelola emosi, dan mengatasi masalah dengan cara yang lebih efektif. Psikoterapi umumnya membutuhkan waktu yang cukup panjang dengan pertemuan berkala. Psikoterapi bisa berupa sesi individual, grup maupun terapi keluarga. Contohnya, terapi kognitif perilaku, psikoanalisis, analisis transaksional, dan lain-lain. 

3. Terapi stimulasi otak
Terapi ini menggunakan perangsangan atau stimulasi pada area tertentu di otak dengan menggunakan impuls listrik ataupun gelombang magnet. Terapi ini dapat digunakan secara efektif pada kasus depresi dan beberapa gangguan mental lainnya.
 
Contohnya, electroconvulsive therapy, transcranial magnetic stimulation, deep brain stimulation, dan vagus nerve stimulation. Sementara itu, gangguan mental pada umumnya dapat diobati dan sangat mungkin terjadi perbaikan terhadap penderita. Banyak penderita gangguan mental kembali berfungsi sepenuhnya seperti sediakala. Sebagian gangguan mental bahkan dapat dicegah. Namun, semua itu sangat bergantung pada dukungan keluarga, masyarakat, pemangku adat, budaya, dan agama hingga pemerintah.

Gangguan mental harus dilihat sebagaimana mestinya, yaitu sebagai suatu kondisi medis yang tidak berbeda dengan penyakit-penyakit lainnya seperti diabetes atau hipertensi. Semakin cepat terdeteksi dan mendapat pengobatan, seseorang akan kembali produktif dan menjalankan perannya dalam keluarga dan kembali menjadi bagian dari masyarakat yang akan memperkuat produktivitas suatu negara.

Mental Illness adalah kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan kepribadian ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak. Mental Illness juga banyak menimpa remaja loh! Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau mungkin di awal usia 20-an. Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan, separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.

Direktur Eksekutif National Alliance on Mental Illness (NAMI), Mary Giliberti, menyatakan, ada 1 dari 5 remaja mengidap kondisi gangguan mental seperti yang dijelaskan dari name.org, tapi hanya kurang dari setengahnya yang memutuskan mencari bantuan. Padahal Mental Illness adalah gangguan jiwa yang cukup berbahaya dan dapat menyebabkan bunuh diri.

Penyebab terjadinya Mental Illnes ini muncul oleh banyak faktor, bisa karena stres, depresi karena mengalami tekanan yang dalam terhadap mental, atau traumatik akan kehilangan sesuatu dan seseorang. Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian atau kasih sayang dan masih banyak lagi.

Ini juga salah satu penyebab para remaja stres atau depresi banyak yang memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan sering meminum alkohol atau minuman keras. Jika kamu, atau teman dan orang orang terdekat yang kamu tahu sering mengalami hal di bawah ini, maka bisa jadi kamu atau orang terdekatmu memiliki Mental Illness,

1. Sering merasa sedih dan tidak punya harapan
Sering merasa sedih dan tidak memiliki harapan, seperti mengucilkan diri selama lebih dari dua minggu, hati hatilah kalau sebenarnya mentalmu sedang terganggu.

2. Munculnya keinginan mengakhiri hidup
Jika kamu memiliki keinginan atau niatan untuk bunuh diri, bisa jadi kamu mengalami gangguan terhadap mental.

3. Tidak bisa mengendalikan diri sendiri
Suka marah dan teriak teriak histeris hanya karena hal kecil dan sering melakukan tindakan yang beresiko.

4. Sering takut akan sesuatu tanpa alasan
Sering muncul rasa takut tidak beralasan bahkan merasakan sesak nafas itu bisa terjadi karena mental mu yang sedang tidak stabil

5. Perubahan pola makan yang drastis
Berhenti makan dan suka memuntahkan makanan.

6. Mood Swing
Suasana hati yang bisa berubah kapan saja. Bisa sangat bahagia, sedih, mudah tersinggung dan marah marah gak jelas.

7. Sering memikirkan suatu hal dengan berlebihan
Hal kecil saja bisa membuat kamu memikirkan nya dengan terus menerus

8. Suka menyakiti diri sendiri
Menyakiti diri sendiri seperti menjedutkan kepala kepada tembok, juga salah satu gejala Mental Illness.

Disebutkan ada 10 tanda gangguan mental, namun gejala-gejala ini tergantung dengan gangguan dan jenis yang di alami, gejala dapat bervariasi:

1. Orang dengan gangguan kepribadian cluster A cenderung mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain dan biasanya menunjukkan pola perilaku yang dianggap aneh dan eksentrik.

2. Orang dengan gangguan kepribadian cluster B kesulitan berhubungan dengan orang lain. Akibatnya, mereka menunjukkan pola perilaku yang dianggap dramatis, tak menentu, mengancam atau mengganggu.

3. Orang dengan gangguan kepribadian cluster C takut terhadap hubungan pribadi dan menunjukkan pola kegelisahan dan ketakutan di sekitar orang lain. Beberapa suka menyendiri dan tidak ingin bersosialisasi.

Menurutnya, orang Indonesia kurang mengetahui dengan baik soal Mental Illness, karena di Indonesia masih banyak yang malu membicarakan atau mengakui soal Mental Illness. Itulah sebabnya orang-orang Indonesia masih sedikit yang mengetahui tentang Mental Illness.


SUMBER :

Komentar