PERAN MAHASISWA MILENIAL MENGHADAPI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Revolusi Industri merupakan sebuah perubahan secara
besar-besaran di berbagai bidang kehidupan manusia seperti manufaktur, pertanian,
pertambangan, transportasi, serta teknologi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan-perubahan yang terjadi akan memiliki
dampak pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya yang ada di dunia khususnya
Indonesia.
Revolusi industri sendiri sudah memasuki empat tahap,
dimulai pada abad ke-18 dan terus berkembang hingga di abad ke-21, dimana
revolusi industri 4.0 mulai di gemakan. Mungkin bagi sebagian dari kita sudah
tidak asing lagi mendengar kata revolusi industri 4.0. Pasalnya revolusi
industri 4.0 sedang hangat diperbincangkan oleh pemerintah Indonesia, yang
kabarnya Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk memasuki era revolusi
industri 4.0. Tidak sampai disitu revolusi industri 4.0 sendiri juga
sempat disinggung dalam debat capres pada tanggal 31 April 2019 yang lalu. Tak
ayal banyak dari masyarakat Indonesia yang mulai mempertanyakan apa itu
revolusi industri 4.0.
Sebelum kita mengenal lebih dalam mengenai revolusi
industri 4.0, ada baiknya jika kita mengetahui bahwa revolusi industri pertama
kali terjadi pada abad ke-18 di Britania Raya dan ditandai dengan
ditemukannya mesin uap, seiring dengan perkembangan zaman terjadilah revolusi
industri yang kedua dimana teknologi mesin uap mulai bergeser dan digantikan
dengan elektrifikasi atau listrik, lalu revolusi industri ketiga pun berlanjut
ketika ditemukannya komputer, hingga sekarang terbentuklah revolusi industri
keempat yang ditandai dengan ditemukannya internet beserta teknologi digital.
Revolusi industri 4.0 pertama kali dikemukakan oleh
Profesor Klaus Schwab yang ditulis pada bukunya yang berjudul "The Fourth
Industrial Revolution" dimana dalam buku ini menyatakan bahwa revolusi
industri 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara hidup manusia, bagaimana
manusia berinteraksi dengan sesama, dan bekerja.
Seperti yang dapat kita lihat di zaman sekarang dengan
adanya peranan teknologi di berbagai aspek kehidupan manusia, maka pekerjaan manusia
dapat menjadi lebih mudah serta efisien. Di satu sisi hal tersebut akan sangat
menguntungkan bagi negara Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi.
Tetapi disisi lain perkembangan teknologi yang pesat
ini ditakutkan dapat mengambil alih kehidupan manusia sehingga membuat
kekacauan dalam tatanan masyarkat. Seperti contoh adalah hilangnya lapangan
pekerjaan. Hal tersebut turut didukung oleh pernyataan yang diungkapkan oleh
McKinsey Global Institute yang menyebutkan bahwa diprediksi revolusi industri dapat
menghilangkan kurang lebih 800 juta lapangan pekerjaan karena telah digantikan
oleh robot. Tentu saja hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para mahasiswa
Indonesia untuk dapat bersaing di dunia global. Oleh karenanya di era revolusi
industri 4.0 ini penting sekali peran perguruan tinggi untuk membekali
mahasiswanya dengan berbagai softskill yang dapat mengembangkan potensi serta
kreativitas dan juga inovasi.
Sehingga nantinya ketika lulus para mahasiswa tersebut
dapat bersaing serta membuka lapangan kerja baru . Hal ini turut diperkuat oleh
pernyataan Mohamad Nasir selaku Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
yang mengatakan bahwa mahasiswa merupakan pemeran utama dalam menghadapi
tantangan revolusi industry 4.0. Oleh karenaya mahasiswa harus mengembangka
potensinya semaksimal mungkin selama kuliah di kampus, tidak hanay di bidang
kaademik namun juga kreativita da inovasi.
Hal ini disampaikan oleh Menristekdikti pada Senin
(15/4) ketika memberikan kuliah umum di Universitas Mataram. Terdapat beberapa
softskill yang sangat penting untuk diasah dan dimiliki oleh mahasiswa di era
revolusi industry 4.0, yaitu: kemampuan dalam berbahasa asing, kemampuan dalam
memecahkan masalah, public speaking, kemampuan dalam berkomunikasi, kemampuan
untuk berpikir kritis, serta kepemimpinan.
Dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan tersebut maka
ketika mahasiswa tersebut lulus ia akan memiliki nilai tambah untuk dapat
bersaing di dunia global. Oleh sebab itu dibutuhkan dukungan dari berbagai
pihak seperti pemerintah dan juga perguruan tinggi supaya dapat mencetak
mahasiswa millennial sebagai Sumber Daya Manusia yang kreatif dan inofativ yang
mampu bersaing dan menyiptakan lapangan pekerjaan baru di era revolusi industry
4.0.
Revolusi
Industri 4.0 era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan, era super komputer,
Rekayasa genetika , teknologi nano, mobil otomatis, inovasi dan perubahan yang
terjadi kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi,
industri, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi
manusia itu sendiri. Era yang menegaskan dunia sebagai kampung global. Untuk
itu mahasiswa harus siap dan harus memiliki strategi mengahadapi perubahan ini,
bukan hanya diam melihat apa yang terjadi.
Seperti yang
dikutip oleh liputan6.com, Bandung mahasiswa yang tengah menuntut ilmu harus
bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi era industri 4.0 yang terjadi
saat ini. Perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan
keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jembatan lama.
Tantangan
ini harus dihadapi sesuai pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0 satu
faktor terpenting adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara
konsisten ditingkatkan,” kata direktur jenderal pembinaan penempatan tenaga
kerja dan perluasan kesempatan kerja (Dirjen Bina penta dan PKk) Maruli
Hasoloan mewakili Mentri ketenaga kerjaan (menaker) Hanif Dhakiri saat membuka
IKA UNPAD Job Expo pada Senin (12/2)
Menteri
riset teknologi, dan pendidikan tinggi Mohammad Natsir industri 4.0 membutuhkan
mahasiswa adaptif, terutama terhadap kemungkinan mesin menggantikan pekerjaan
lulusan perguruan tinggi, terutama lulusan politeknik.
Oleh sebab
itu mahasiswa harus dididik dengan pengetahuan yang belum bisa dilakukan oleh
mesin atau kecerdasan buatan, sehingga kita tidak tergantikan oleh mesin
buatan. Namun sedikit mustahil untuk melakukan itu semua, karena mesin bisa mengingat
lebih baik dari pada kita, menghitung lebih cepat dari pada kita, mesin tak
pernah marah, dan selalu melakukan pekerjaan lebih baik dari pada kita. Jadi
kalau kita ingin bersaing dengan mesin sedikit sekali peluang kita untuk
menang.
Jadi
bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa bersaing dengan mesin? Saya pikir kita
harus belajar tentang budaya, nilai, inilah hal-hal di mana mahasiswa saat ini
bisa menang melawan mesin. Dan di dunia pendidikan ada dua hal yang harus ada
di kampus yaitu imajinasi dan kreativitas. Dan juga pendidikan di era ini harus
memberikan penekanan pada penguasaan cara belajar dari pada sekedar banyak
tahu, karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan saat ini.
Dan juga
perlu memperbesar ruang kreativitas dan kegiatan ekstrakurikuler di kampus.
Maka revolusi industri 4.0 akan menjadi berkah dan tidak terjadi musibah bagi
mahasiswa.
Kenapa dua
hal yang saya sebutkan di atas itu harus ada? Karena dua hal itu merupakan
elemen yang harus di miliki setiap manusia bukan hanya mahasiswa saja. Kedua
elemen itu memungkinkan kita untuk dapat mengungkapkan pikiran, perasaan dan
juga aspirasi serta membantu kita untuk mengikuti perkembangan zaman.
Kreativitas
dan imajinasi dapat juga mendukung ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi
dan dapat mendorong kemajuan perekonomian melalui kewirausahaan, dan
memungkinkan kita mahasiswa untuk berkontribusi secara penuh.
Sumber :


Komentar
Posting Komentar